Jumat, 17 Mei 2013



AGROBISNIS PUYUH PETELUR

Agroindustri telur puyuh di Indonesia mulai tumbuh pada tahun 1970an, bersamaan dengan tumbuhnya agroindustri ayam ras petelur.  Namun konsumen telur puyuh lebih terbatas dibanding konsumen telur ayam ras.  Sebab bobot telur puyuh yang hanya 10 gr/butir dengan perbandingan 1/5 sd 1/7 bobot telur ayam ras (50 - 70 gr/butir), tidak memungkinkannya untuk didadar atau diceplok (dibuat telur mata sapi).  Telur puyuh juga tidak mungkin masuk ke industri roti, kue, telur asin dan pedagang martabak telur yang selama ini lebih banyak memanfaatkan telur itik.
Pemanfaatan telur puyuh terbanyak adalah untuk sup, campuran aneka sayur, dan untuk disate.  Kulit telur puyuh juga sangat lemah sehingga tidak memungkinkan pengemasan dan pengangkutan berskala massal dalam kondisi mentah.  Untuk mengatasinya  peternak puyuh akan melakukan perebusan telur sebelum mengemas dan menyalurkannya ke pedagang atau konsumen.  Kondisi inilah antara lain yang menyebabkan pertumbuhan agroindustri telur puyuh tidak mengalami kemajuan pesat seperti agroindustri telur ayam ras maupun itik.
Disamping kelemahan-kelemahan tersebut  puyuh juga memiliki kelebihan dibanding ayam dan itik petelur.
1.      Agroindustri puyuh sangat hemat tempat. Ruang 5 m2 (2 X 2,5 m)  misalnya mampu menampung sampai 500 ekor puyuh.
2.      Investasi kandang dan bibit juga sangat rendah.
3.      Biaya investasi kandang kapasitas 500 ekor hanya sekitar Rp 1.200.000,- dengan masa penyusutan 5 tahun (Rp 20.000,-/bulan). Investasi puyuh siap telur Rp 9.000,-/ekor atau Rp 4.500.000,- untuk 500 ekor, dengan masa produksi 1.5 tahun.
4.      Pembelian pakan (1 zak) diawal pemeliharaan + biaya obat-2an Rp. 300.000,-
5.      Total biaya awal yg dibutuhkan untuk pemeliharaan Puyuh petelur 500 Ekor Rp. 6.000.000,-
6.      Puyuh afkir masih punya nilai jual Rp 5000,-/ekor. Hingga beban investasi benih Rp 222.225,-/bulan. (Harga puyuh dikurangi harga puyuh Afkir di bagi masa produksi)
7.      Beban pakan/hari @ 0,021 kg. X 5.00 X Rp5500,- = Rp 57.750,- ditambah hijauan dan obat/vitamin Rp 5.000,- = Rp 62.750,-/hari atau Rp 1.882.500,-/bulan.
8.      Untuk skala usaha 500 sd 5.000 ekor, agroindustri puyuh masih bisa ditangani oleh anggota keluarga. Hingga beban tenaga kerja tidak perlu dihitung. Kalau saja mau dihitung, maka biaya tenaga kerja untuk skala 500 ekor hanyalah sekitar Rp 400.000,-/bulan (2 jam kerja/hari).
9.      Total beban biaya per bulan (Penyusutan kandang, beban investasi benih/penyusutan puyuh, beban pakan, Tenaga kerja) menjadi Rp 2.524.775,-  
Dengan pakan dan perawatan yang benar, 500 ekor puyuh akan mampu menghasilkan 450 butir telur per hari (90%).  Hasil telur per bulan adalah 13.500 butir, apabila 1Kg = 93 butir, Maka telur yg di hasilkan 145 Kg/bulan.  Harga telur di tingkat peternak Rp 23.000,-/Kg.  Hingga pendapatan kotor peternak dari telur, Rp 3.335.000,- /bulan.  Dari 500 ekor puyuh itu tiap harinya juga akan dihasilkan kotoran sebanyak 5 kg.  Tiap 7 hari sekali  kotoran yang dihasilkan akan mencapai 1 karung @ 35 kg, yang akan laku dijual seharga Rp 15.000/karung,- Hingga dalam satu bulan, peternak masih akan memperoleh tambahan pendapatan dari kotoran puyuh sebesar Rp 60.000/bulan,- Hingga total pendapatan kotor peternak per bulan Rp 3.395.000,- Dengan beban biaya Rp 2.524.775,-/bulan. Pendapatan bersih dari 500 ekor puyuh adalah Rp 870.225,-/bulan.  Hingga apabila seorang peternak ingin berpendapatan Rp 3.000.000,- per bulan, maka ia harus memelihara kurang lebih sebanyak 2.000 ekor puyuh. Populasi sebanyak itu, masih mungkin ditangani oleh anggota keluarga sendiri.
Dari angka-angka tersebut, tampak bahwa komponen biaya terbesar dalam agroindustri puyuh adalah pakan.  Biaya pakan yang Rp 1.882.500,- adalah 75% dari total biaya yang Rp.  2.524.775,-.  Perhitungan ini berdasarkan asumsi harga pakan Rp 5500,-/kg. Apabila harga pakan mencapai Rp 8000,-/kg. dan harga telur tidak mengalami kenaikan, maka peternak akan merugi. Selama ini harga telur Rp 23000-25000,-/Kg di tingkat konsumen, sudah lebih tinggi dibanding harga telur ayam ras maupun itik. Sebab harga telur ayam ras hanya berkisar Rp 17.000-20.000,-/Kg.  Keuntungan akan bisa ditingkatkan, apabila peternak bersedia meramu pakan sendiri. Agar produksi telur tidak menurun, maka kandungan protein dalam pakan, minimal 20 %.
Komponen pakan tersebut bisa diperoleh berdasarkan campuran jagung kuning giling 30%, dedak halus (katul) 20%, bungkil 20% tepung ikan 15% kedelai giling 10%, tepung tulang/tepung kerang 3%, vitamin dan mineral 2%.
Kendala utama beternak puyuh di lingkungan pemukiman adalah bau kotoran yang sangat menyengat. Untuk menghindarinya ke dalam minuman puyuh tiap harinya dicampurkan rimpang kunyit yang telah diblender atau diparut.  Selain itu tiap hari ke atas kotoran ditaburkan kapur tohor (kapur bangunan) atau biang bakteri (semacam EM 4).  Dengan perlakuan seperti ini bau kotoran puyuh dalam kandang akan hilang.  
Konstruksi kandang puyuh selalu dibuat dengan lantai kawat ram hingga kotoran akan jatuh keluar kandang.  Di bawah lantai tiap petak kandang dipasang triplek atau seng yang bisa ditarik serta didorong masuk.  Kotoran yang jatuh akan tertampung dalam triplek atau seng ini dan tiap hari harus diambil serta dibersihkan. Kotoran yang terkumpul dalam karung juga harus diberi biang bakteri agar tidak memunculkan bau busuk.  Kotoran yang ditimbun dalam karung biasanya akan segera ditumbuhi belatung.
 Belatung ini bisa dimanfaatkan untuk pakan anak ikan, burung atau dimasukkan kembali ke dalam pakan puyuh.  Namun dengan sanitasi yang baik belatung yang sebenarnya larva lalat itu tidak akan muncul.
Meskipun sudah diberi pakan dengan gizi cukup puyuh akan saling kanibal. Biasanya yang menjadi korban adalah individu yang paling lemah.  Bagian punggung di atas ekor serta bagian pantat paling sering diserang untuk dimakan bulu-bulu mudanya.  Apabila bagian ini luka dan berdarah serangan akan semakin sering hingga bisa mengakibatkan luka parah atau kematian.  Untuk mencegahnya selain diberi pakan butiran, puyuh juga perlu diberi sayuran. Namun sayuran seperti kangkung atau daun singkong juga akan segera habis dikerubuti puyuh.  Hingga masih diperlukan pemberian bahan pakan yang keras dan awet untuk mengalihkan perhatian.  Misalnya bonggol atau potongan batang pisang, nangka/pepaya muda, singkong, ubi jalar dan lain-lain bahan yang keras agar tidak segera habis termakan. Dengan cara demikian puyuh akan disibukkan mematuk-matuk bahan tersebut, hingga tidak terjadi saling kanibal.